5 Buku Parenting Andalan untuk Dampingi Remaja

  • 30-09-2019 21:49
  • Posting by Administrator BKKBN Pusat
...

Oleh: Menur Adhiyasasti

Menghadapi remaja memang susah-susah gampang. Jika orang tua tidak menguasai ilmu tentang tumbuh kembang anak dan remaja, transisi anak dari remaja menuju dewasa dapat menyebabkan gesekan-gesekan yang bisa berujung pada merenggangnya hubungan orang tua dengan anak.

Karena itu, tidak ada salahnya orang tua belajar kembali tentang cara membesarkan remaja dengan baik. Tumbuhkan kembali semangat menimba ilmu parenting, sama seperti saat menjadi orang tua baru dahulu. Membekali diri dengan buku parenting berkualitas tentunya akan memberi pemahaman yang lebih utuh tentang cara menghadapi remaja, di samping informasi dari artikel online, seminar parenting, dan kuliah via media sosial. Beberapa buku di bawah ini bisa dijadikan referensi orang tua agar mampu membesarkan remaja dengan penuh percaya diri.

1. Parents as a Coach

Pengalaman Aisya Yuhanida Noor sebagai psikolog, trainer, dan coach sekaligus ibu dari anak remaja membuatnya dapat menyimpulkan bahwa selama ini orang tua masih menggunakan cara lama dalam menghadapi permasalahan remaja. Padahal, dunia remaja sudah jauh berubah. Orang tua pun tidak lagi menjadi sosok utama dalam hidupnya, digantikan dengan teman sebaya. Agar orang tua tidak cepat “bertanduk” saat berhadapan dengan remaja, buku ini menawarkan pendekatan coaching pada anak dengan cara: hadir penuh, membangun kepercayaan, mendengarkan aktif, memberdayakan anak lewat pertanyaan kuat, serta melatih anak berkomitmen.

2. 1001 Cara Bicara

Sesuai dengan namanya, buku ini memberikan panduan bagaimana cara berbicara yang tepat dengan remaja. Sebelumnya, orang tua diajak untuk mengenal lebih dalam tentang karakteristik remaja, berbagai macam gaya pengasuhan orang tua yang juga mempengaruhi cara komunikasi orang tua dengan anak. Untuk mengetahui gaya pengasuhan apa yang selama ini digunakan, orang tua bisa mengisi kuis sederhana.

Informasi dasar tadi kemudian digunakan sebagai panduan orang tua dalam berkomunikasi dengan remaja. Buku 1001 Cara Bicara membagi topik pembicaraan ke dalam 7 area, yaitu rumah dan keluarga, pertemanan dan relasi sosial, perilaku berisiko, literasi digital, kesehatan mental, kesehatan seksual dan reproduksi, serta perencanaan masa depan. Di setiap topiknya, terdapat contoh kasus, penjelasan singkat mengenai mengapa situasi tersebut umum terjadi, kemudian cara bicara yang tepat yang bisa digunakan oleh orang tua.

Disusun oleh tim dari Johns Hopkins Center for Communication Programs, psikolog Alzena Masykouri, serta Direktorat Ketahanan Remaja dari BKKBN, buku ini layak menjadi panduan orang tua.

3. The Secret of Enlightening Parenting

Konsep Enlightening Parenting yang digagas oleh Okina Fitriani menawarkan cara pandang baru dalam ilmu pengasuhan anak yaitu dengan cara mengubah limiting belief (yakin akan keterbatasan kita) dan reframing (mengubah cara pandang kita akan suatu hal). Misal, seorang ibu percaya bahwa ia pemarah, padahal dalam 24 jam belum tentu ia bisa marah selama 2 jam penuh. Berarti jika ibu tersebut gagal untuk bersikap sabar pada anaknya, penyebabnya adalah limiting belief bahwa ia seorang pemarah.

Kasus lain, saat anak membantah, orang tua menganggap anak melawan, ngeyel, dan keras kepala. Dengan teknik reframing, orang tua bisa mengubah sudut pandang bahwa anak membantah karena ia sudah bisa menyampaikan pendapatnya sendiri. Hanya saja caranya kurang santun, mungkin meniru dari cara bicara orang tua. Artinya, orang tua perlu memperbaiki cara bicara.

4. How to Talk So Teens Will Listen and Listen So Teens Will Talk

Buku yang ditulis oleh Adele Faber & Elaine Mazlish ini menjadi bestseller internasional. Yang membuat buku ini layak dimiliki adalah contoh praktis cara bicara yang benar dan yang salah untuk berbagai macam kasus yang sering dihadapi orang tua, disertai dengan ilustrasi. Dalam bukunya, penulis menggunakan situasi workshop komunikasi orang tua yang memiliki anak remaja sehingga teori yang disarankan oleh penulis dapat langsung diuji coba oleh peserta workshop dengan anak masing-masing di rumah. Pembaca pun dapat melihat bagaimana perbedaan cara merespon masalah dengan anak akan membawa hasil akhir yang berbeda pula.

Pesan utama yang diusung oleh buku ini adalah ada beragam cara bicara yang lebih mudah diterima oleh remaja daripada memberikan perintah semata apalagi hukuman, yaitu dengan cara menyatakan perasaan kita, menyatakan ekspektasi kita, menunjukkan bagaimana cara memperbaiki kesalahan, dan memberikan pilihan.

5. Raising Boys

Katanya, membesarkan anak perempuan lebih susah daripada anak laki-laki. Namun, dengan karakteristik bawaan anak laki-laki yang tidak mudah mengekspresikan perasaan, memiliki dorongan seksual dan agresivitas yang lebih tinggi, anak laki-laki kelak dituntut untuk mampu menjadi kepala keluarga dan pemimpin yang baik. Karenanya, Steve Biddulph menekankan pentingnya memahami tahap perkembangan anak laki-laki, yaitu usia 0-6 tahun, 6-14 tahun, dan 14 tahun ke atas. Kemudian, memberi pemahaman yang benar tentang seksualitas (termasuk bahaya pornografi), tentang cara memperlakukan wanita, pentingnya penyaluran energi seperti olahraga atau bermain musik, serta memberi tips seputar cara belajar anak laki-laki.

Pada intinya, semua buku tersebut berusaha untuk membantu orang tua menyelesaikan masalah pengasuhan dengan cara yang tepat. Karena, cara berkomunikasi yang salah membuat remaja mengartikan bahwa orang tua hobi mengatur, seperti yang diungkapkan para remaja dalam artikel ini. Semoga saja setelah membaca buku-buku di atas, orang tua tidak hanya dapat menghadapi problematika dengan remaja, namun dapat menjalin hubungan yang lebih hangat.